--> Skip to main content

Rendra; Potret Pembangunan dalam Puisi

Puisi Potret Pembangunan dalam Puisi ini di tulis sekitar tahun 1974, saat terjadi peristiwa Malari (malapetaka 15 Januari). Kemudian kumpulan sajak ini diberi pengantar Rendra dengan mengutip salah satu bagian dari puisinya:
Aku mendengar suara
jerit hewan yang terluka. 
Ada orang memanah rembulan
Ada anak burung terjatuh di sarangnya. 
Orang-orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan
Agar kehidupan bisa terjaga 
Rendra, Yogya, 1974
Sedikit mengulas mengenai puisi Potret Pembangunan dalam Puisi terdiri atas 25 sajak. Sebagian besar sajak-sajak dalam puisi ini berisi protes terhadap dunia pendidikan. Kritik ini diberikan terutama karena pendidikan tidak menjawab tuntutan pembangunan sehingga juga tidak menjawab masalah ketenagakerjaan.

Kemudian menyusul kritik sosial terhadap ketidak adilan yang nampak baik dalam bidang sosial maupun dalam bidang ekonomi. Ketidakadilan itu juga tercermin pada kesenjangan yang menyolok antara si kaya dengan si miskin. Ketidakadilan itulah yang menyebabkan penyair seolah mendengar "jerit hewan yang terluka".

Hal lain yang merupakan ulangan dari tema-tema yang pernah dikemukakan ialah kritik Rendra terhadap ketidaktulusan para pelayan masyarakat. Pemimpin-pemimpin kurang memiliki ketulusan hati dalam melayani masyarakat. Juga dikemukakan kemunafikan dan moralitas.

Masalah pendidikan dengan ekonomi erat hubungannya dengan masalah urbanisasi dan pengangguran. Disamping itu juga berkaitan dengan sistem ekonomi yang berlaku pada saat itu. Masalah-masalah tersebut juga tidak luput dari perhatian Rendra. Dapat dikatakan bahwa PPDP (Potret Pembangunan dalam Puisi) menjangkau bidang lingkup yang lebih luas dari pada puisi-puisinya terdahulu.

Tak hanya itu saja, masalah lain yang juga mendapat perhatian penyair ialah: anak muda yang tanpa harapan masa depan, orang tua tersia dan kesepian, cinta, pengorbanan yang sia-sia, cinta yang total, demokrasi yang hanya merupakan impian, orang miskin dan sebgainya.

Itulah selayang pandang tentang Potret Pembangunan dalam Puisi, dan segera saya akan membuatkan analisis dari tema puisi tersebut. Em.. mungkin bukan analisisnya ya, tapi membahas lebih dalam lagi tema-tema dari Potret Pembangunan dalam Puisi.


Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar